Melaju Pesat Diatas Kompetisi Dengan Kompetensi

Abstrak

            Perkembangan era globalisasi menuntut manusia untuk merubah visi sektoral menuju visi global yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Organisasi berlomba-lomba untuk mencapai tujuan yang maksimal dengan berbagai upaya mendorong sumber daya manusia  yang mengawaki organisasi terpacu melakukan yang terbaik dengan lingkungan kompetisi yang tinggi dan nilai kompetensi yang maksimal.

            Menurut sejarah, manusia selalu berkompetisi untuk bertahan hidup menuju sebuah kondisi “superiority”. Sehingga terkadang iklim kompetisi berkembang menjadi kondisi yang tidak sehat karena aura negative yang dipancarkan. Kompetisi dapat dikondisikan maupun dapat tumbuh secara alamiah dalam sebuah komunitas. Tidak jarang sebuah industri, organisasi maupun kelompok non profit oriented sengaja menumbuhkan iklim kompetisi guna menghasilkan kinerja yang optimal dari para personelnya.

            Di saat manusia berlomba-lomba untuk berkompetisi mencapai sebuah tujuan yang ideal, munculah istilah kompetensi yang akhir-akhir ini telah mampu memikat pola pikir modern karena keluhuran dan tingkat efektifitas konsep ini. Selain daripada itu teori kompetensi telah terbukti membawa iklim positif dalam sebuah organisasi untuk merangsang energy positif untuk hasil-hasil yang positif pula.  Beberapa hal akan kita ulas dalam tulisan singkat ini meliputi pengertian kompetensi, kompetensi dan kompetisi dalam organisasi, keuntungan kompetensi serta kelemahan kompetisi dalam organisasi.

Pengertian Kompetensi

            Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu[i]. Kata-kata “penuh tanggung jawab” perlu kita garis bawahi dimana hal tersebut merupakan nilai luhur yang mutlak dimiliki oleh setiap professional muda yang mempunyai keahlian di bidang masing-masing. Seseorang yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan tidak akan cukup bermanfaat dan mempunyai daya saing yang tinggi apabila tidak memiliki rasa tanggung jawab dalam dirinya.   Sedangkan  elemen – elemen kompetensi terdiri atas : a. landasan kepribadian; b. penguasaan ilmu dan keterampilan; c. kemampuan berkarya; d. sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai; e. pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya[ii]. Sesungguhnya, menonjolnya konsep kompetensi lebih disebabkan oleh adanya nilai landasan kepribadian yang mendasari penguasaan terhadap ilmu dan ketrampilan untuk berkarya. Landasan kepribadian memberikan modal utama bagi individu yang mempunyai nilai kompetensi yang tinggi dalam bidangnya.

            Huston dan Robert (1972:3) mengatakan bahwa “competence is an adecuacy for task or possesion of requiered knowledge, skill and abilities”. Apabila kita cermati pendapat ini menunjukkan bahwa kompetensi merujuk pada pengetahuan dan ketrampilan seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Cohen (1980:173) mengatakan bahwa “competencies are the areas of knowledge, ability and skill that increase and individual’s efffectiveness in dealing with the world”. Aisworth, Smith dan Millership (2007:73) mengatakan bahwa kompetensi merupakan kombinasi pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan pekerjaan. Kompetensi adalah kapasitas untuk menangani suatu pekerjaan atau tugas berdasarkan suatu standar yang telah ditetapkan. Hutapea dan Thoha (2008:4) mengemukakan beberapa definisi kompetensi sebagai berikut: Boyatzis (1982) : Kompetensi didefinisikan sebagai “Kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu organisasi sehingga organisasi tersebut mampu mencapai hasil yang diharapkan”.Woordruffe (1991) and Woodruffe (1990) : Mereka membedakan antara pengertian competence dan competency, yang mana competence diartikan sebagai konsep yang berhubungan dengan pekerjaan, yaitu menunjukkan “wilayah kerja dimana orang dapat menjadi kompeten atau unggul”. Sedangkan competency merupakan konsep dasar yang berhubungan dengan orang, yaitu menunjukkan “demensi perilaku yang melandasi prestasi unggul (competent)”. Kedua pendapat tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa kompetensi adalah suatu kemampuan atau keunggulan individu yang relevan dengan tuntutan pekerjaan atau mencapai suatu standar kinerja.

Kompetisi Dan Kompetensi Dalam Organisasi

            Sebuah organisasi membutuhkan sumber daya manusia yang professional, efektif Dan efisien. Apapun bentuk dan jenis organisasi tersebut (baik militer maupun sipil) pasti akan berusaha mewujudkan performance kerja organisasi yang ditopang oleh sumber daya yang handal. Stakeholder sebuah organisasi berlomba-lomba mengkondisikan hal ini dengan sebuah iklim kompetisi yang berbasis pada dorongan berbuat lebih unggul daripada yang lain. Ekses negative dari persaingan yang dikondisikan tersebut membuat seseorang berusaha lebih baik dari pada rekan yang lain. Apabila rata-rata standard kinerja dalam sebuah lingkungan kerja cukup rendah, maka tidak heran bila kompetisi akan menghasilkan tenaga kerja yang baik namun tidak dalam performa maksimal yang sebenarnya dimiliki yang bersangkutan.

            Di lain pihak kompetensi telah bergerak selangkah lebih maju dengan konsep memaksa tiap sumber daya manusia untuk berusaha memenuhi standar kompetensi keahlian dan profesionalisme yang ditentukan. Kita mendidik anak buah untuk mampu bekerja dengan standar profesionalisme terukur bukan mendidik anak buah menjadi saling bersaing dalam kerangka tugas pokok.

Keuntungan Kompetensi Diatas Kompetisi

            Tercatat berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis menilai bahwa ada beberapa keuntungan kompetensi bila dibandingkan dengan kompetisi. Keuntungan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

            1. Tercipta iklim yang konduksif. Sumber daya manusia dalam organisasi akan berkembang sesuai dengan tuntutan standard kompetensi yang dikehendaki oleh organisasi. Tidak ada iklim saling menjatuhkan demi mendapatkan prestasi kerja yang lebih baik dari rekan-rekannya karena penilaian bukan yang terbaik dari yang terburuk namun terbaik dari yang telah memenuhi standard kompetensi.

            2. Menjamin adanya persaingan sehat. Dengan adanya semangat pencapaian standard kompetensi tersebut kita akan terpacu untuk bersaing dengan diri kita sendiri. Karena sesungguhnya saingan kita adalah diri kita sendiri. Masing – masing akan berlomba untuk bersaing mencapai kompetensi dengan positif feeling.

            3. Menumbuhkan mental kesadaran bukan mental paksaan. Tujuan jangka panjang akan membentuk mental kesadaran yang berbasis pada kebutuhan yang harus dipenuhi untuk kepentingan pribadi. Bukan ke arah mental paksaan yang selalu hadir dalam iklim kompetisi.

            4. Mencegah praktek KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Apabila kompetensi yang dikejar, maka tidak ada pendekatan kekeluargaan atau pendekatan kekerabatan dalam menentukan kualitas kerja karena semua ditentukan oleh standard kompetensi yang telah ditentukan dan diketahui bersama. Kompetisi lebih berimplikasi negative terhadap persaingan dan rentan terhadap campur tangan pendekatan yang berbau kolusi, korupsi maupun nepotisme.

            5. Meningkatkan Kualitas Dan Kinerja Organisasi.  Organisasi yang diawaki oleh sumberdaya manusia yang mempunyai nilai kompetensi yang tinggi sudah barang tentu akan mempengaruhi kualitas dan kinerja organisasi tersebut. Personel yang mempunyai kompetensi yang yang tinggi berani mempertanggung jawabkan setiap kinerja nya sebagai wujud profesionalisme yang dimilikinya. Dalam sistem pengelolaan kinerja, kompetensi yang berorientasi kepada perilaku jauh lebih penting untuk dijadikan pertimbangan dibandingkan hasil pekerjaan itu sendiri.  Ridley (2007) mendukung melalui penemuan bahwa aspek perilaku manusia memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perbedaan kinerja.  Perilaku yang tersebut berkaitan dengan kebutuhan pekerjaan itu sendiri (job related behavior), atau yang saat ini dikenal dengan istilah kompetensi[iii].

Kesimpulan

            Demikian tinjauan singkat tentang kompetensi diatas kompetisi yang akhir-akhir ini telah berkambang dalam dunia kita. Dimanapun berada hal ini akan berlaku dalam proses peningkatan kualitas organisasi. Iklim kompetisi dengan segala kelebihan dan kekurangan selalu berkembang seiring dengan pola pikir masyarakat umum. Sedangkan pergeseran menuju iklim kompetensi membuat kita semakin dewasa dalam berkompetisi. Era saat ini membutuhkan personel yang kompeten bukan hanya yang lolos dalam kompetisi.

 (for a better future …..@ TNC)

 

 

[i] KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIANOMOR 045/U/2002 TENTANG KURIKULUM INTI PENDIDIKAN TINGGI Pasal 1

[ii] KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIANOMOR 045/U/2002 TENTANG KURIKULUM INTI PENDIDIKAN TINGGI Pasal 2 (2)

Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Melaju Pesat Diatas Kompetisi Dengan Kompetensi

  1. sseveneleven berkata:

    Menarik sekali Pak TNC, jarang ada yang menyadari atau bahkan menilai sejauh mana pribadi diri telah mencapai “sesuatu” dalam hitungan detik, menit, hari bahkan tahun…Marilah kita sama sama berbuat untuk Indonesia yang lebih maju..bunuh ego sektoral dan bersatu demi sebuah kejayaan NKRI

    SevenEleven

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s